Uncategorized


Sebenarnya agak menggelitik benak saya. Entah sejak kapan, dan siapa yang memulai. Bangsa kita yang tadinya menyebut Cina untuk merujuk suatu negeri atau bangsa di belahan Asia Timur, menjadi enggan dan secara massal mulai menggunakan sebutan China (dengan ejaan dan pelafalan bahasa Inggris). Tujuannya mungkin untuk kepentingan kenyamanan, jikapun tidak bisa sepenuhnya dikatakan perkara politik.

Sebutan Cina bagi banyak pihak, dianggap memiliki unsur penghinaan. Penghinaan yang saya maksud disini bukan hanya terbatas pada suku Tionghoa di Indonesia, tapi juga rakyat dan negeri Cina pada umumnya. Hal ini bukan tanpa bukti. Tahun ini saya menyiapkan terjemahan ijazah S1 untuk keperluan studi lanjut S2 saya di negeri Cina. Ijazah terjemahan notaris yang sudah saya urus, harus diberi cap segel oleh Kedutaan Besar Cina di Jakarta. Selain ijazah terjemahan tersebut, saya juga diminta melampirkan ijazah asli. Disinilah masalah kemudian muncul, sebab pada ijazah saya tercantum: Universitas Indonesia memberikan gelar Sarjana Humaniora Sastra Cina. Pihak Kedutaan meminta saya untuk mengubah gelar tersebut, karena penyebutan jurusan Sastra Cina yang menurut mereka tidak pada tempatnya. Seharusnya, menurut pihak kedutaan, Universitas Indonesia harus segera mengganti nama jurusan kami dari Sastra Cina menjadi Sastra China.

Saya lekas bepikir, apa ada kata “China” dalam bahasa Indonesia baku. Bahkan dalam KBBI, yang tercantum hanya kata “Cina”. Apakah masuk akal memakai sesuatu yang tidak baku sebagai nama jurusan dalam sebuah Universitas?

Untuk beberapa orang ini mungkin tak jadi masalah, penggunaan kata “China” kemudian banyak diikuti. Sehingga lama kelamaan media-media juga menggunakannya. Dengan tingkat kelatahan bangsa Indonesia yang cukup tinggi, masalah kata “China” ini bisa sangat mengganggu. Anda mungkin tak bisa membayangkan betapa terganggunya saya ketika mendengar pembawa berita membacakan teks dengan bahasa Indonesia, namun tiba-tiba terselip kata bahasa Inggris “China”. Tambahan lagi, muncul kata “China” di layar televisi dengan ejaan C- H – I – N – A.

Tidak apa buat saya apabila kita mau berlapang dada, menerima kata serapan dari bahasa lain. Namun paling tidak, harus disesuaikan dengan kaidah pengucapan serta ejaannya dalam bahasa Indonesia. Misalnya America menjadi Amerika, Japan menjadi Jepang. Bila kata “China” menjadi bahasa Indonesia, bagaimana pula menyebutnya? Karena kaidah fonetik bahasa Indonesia tidak mengenal Chi dengan cara baca [cai]. Chi hanya dibaca dengan cara baca [ci]. Salah satu kelebihan yang dimiliki vokal bahasa Indonesia adalah, dibaca apa adanya seperti [i]. Bukan seperti bahasa Inggris i dibaca menjadi [ai].

Jikapun kata “Cina” dianggap tak lagi memenuhi syarat dan dianggap menghina. Kata “China” tidak lekas bisa serta merta diambil begitu saja untuk menggantikan kata “Cina”. Untuk menyesuaikan dengan ciri khas vokal bahasa Indonesia yang dibaca apa adanya, maka ada opsi baru. Kata “China” bisa digunakan, asal ditulis dengan ejaan “Caina”. Sehingga, bila dijabarkan dalam suku kata menjadi Cai-na. Seperti diftong ai dalam kata pantai, gulai.

Saya rasa, harus mulai ada kesepakatan dalam pemakaian kata “Cina”. Untuk saya sendiri, saya tetap menganjurkan penggunaan kata “Cina”, alih-alih “China” atau “Caina”.

Mungkin berkomentar, berpendapat ataupun sampai mengkritik, menghina, mencela saat menyoal pendidikan di Indonesia bukan jadi hal baru. Jadi yaa.. saya akan jadi pengekor saja dalam hal ini. Sebab perlu disadari, org2 yang masih punya pendapat soal pendidikan, berarti dia masih peduli. Setidaknya saya bangga membaca semua kritikan, hinaan dan celaan terhadap pendidikan Indonesia, at least yang mengkritik itu masih peduli dengan nasib pendidikan di negeri ini.

yang belakangan jadi bahan omongan super hangat mungkin ya soal UAN. Tujuan UAN mungkin jelas ya, menstandarkan kompetensi pembelajar / peserta didik / siswa (apa sih skrg cara ahli pendidikan menyebutnya mereka?)

Kalau sebagian besar orang menilai UAN harus dihapus karena tidak manusiawi dan memberatkan baik siswa ataupun guru, kalau saya justru bukan menilainya dari sisi itu. UAN menurut saya untuk masa lalu, jaman saya masih duduk sekolah. Kalau sekarang masih pakai UAN, sepertinya jadi tidak mengikuti tuntutan jaman.

Sekarang jamannya KTSP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang artinya setiap satuan pendidikan yakni sekolah berhak menentukan kurikulumnya sendiri. Sebab masing2 sekolah diibaratkan punya karakterisktik sendiri, sesuai dengan lokasi sekolah tersebut. Sehingga dari segi materi, ada sekolah2 yang bisa lebih dalam membahas materi tertentu dibanding sekolah lainnya. Sampai sini, saya masih berpikir… Waaaw hebat juga negeri kita ini. Begitu peduli dan paham akan begitu beragamnya sekolah2 di Indonesia. Sekolah seperti anakayam yang dilepas sama si empunya. Bebas mau kemana. Bisa lari2, cari makan sana sini…

Nah pertanyaan besarnya… di saat bebas2nya, kenapa tetap ada UAN? Padahal dengan KTSP, bukankah materi setiap satuan pendidikan jadi tidak seragam lagi? Memang masalah penentuan kompetensi masih berada di bawah kendali Depdiknas. Dalam hal ini Depdiknas sebatas memberi rambu2. Tapi menyoal materi, semua kan sudah dipercayakan pada sekolah. Kalau sudah begini, saya jadi bingung harus berpendapat apa. Entah UAN yang aneh.. ataukah KTSP yang aneh…

Tapi keduanya cukup aneh saya rasa, sebegitu anehnya sampai-sampai terpikirkan oleh saya. KTSP dengan UAN sama halnya dengan si anak ayam yang dilepas sama yang empunya, tapi ekornya masih dipegang…

Hayuh yam, mau lari kemana ???

stengah lapan dateng d kampus… (ampun deh neng, yang buka pintu jg masi sarungan) mendapati gedung ini begitu sepi, setdah ini hari emangnya da libur y?? perasaan besok d tanggal merahnya.

 gw da kebayang ni nanti sore bakalan macet. emang dasar orang2 yang ada di kota ini semuanya norak (termasuk gw juga, hahaha). begitu liat libur dikit, langsung bersiap hengkang. entah itu ke bandung kek, ke bogor kek, ke mall kek, pokoknya kemana aja kek yang penting gak pulang ke rumah. dan selalulah macet di hari terakhir masuk kerja, such as this beautifull day.. 

“liburan ke mana bu ayu?” tadi ada salah seorang dosen fbs unj yang tanya. ke mana y pak?? saya si maunya ke bangkok! ketemu calon suami, menjamak takdim bulan madu kami. hohoho ”gak kemana-mana pak, paling di rumah aja. jagain air, takut banjir” akhirnya gw memilih menjawab begitu.

tapi di libur yang agak panjang ini, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu gw da tau mau apa. preparing my wedding, beli2 bahan, urus2 gedung, trus berkutat dengan beberapa cangkir kopi hangat, laptop ngadat, dan terjemahan yang membludak menanti cepat2 diselesaikan. ada 2 deadline minggu ini, satu di hari sabtu dan yg satu lagi di hari rabu. gak ada yg perlu disesali menjalani libur yg seperti ini. i love to work on the weekend!! that’s for sure. terlebih gak ada waktu pacaran. bukan gak ada waktu sii, gak ada yg dipacarin lebih tepatnya. kalo da bgini, yg ada gw mengganggu hari wikennya si wika. telpon2, minta jalan… hehehe…

ahhh liburan, aku datang…  

Kalimat di atas bukan hasutan. Bukan juga bertujuan membanggakan jurusan sendiri. Apalagi, sampai bikin iklan buat tempat les mandarin terdekat… 

Believe it or not! Itu judul yang terpampang di cover depan Time magazine edisi 26 juni kemarin. Banyak yang belum sadar mungkin. Betapa seluruh orang di penjuru dunia sedang sibuk. Sibuk mempelajari sesuatu yang baru… Mandarin!

Why learning Mandarin is a must, then? Well, better ask yourself! Why you must learn english in the first place? Susah2 belajar dari sd. Buat apa?? Pada dasarnya, siapa yang berkuasa maka kebudayaan itu yang jadi panutan. Era2 kemarin mungkin karena Amerika lagi pegang kendali ekonomi dunia. Jadi ya, english becoming a common language.

Tapi sekarang, coba buka mata lebar2. Negara sekuat Jepang dan Korea aja menyadari kekuatan potensial Cina. Sekarang nih, menurut Time magazine, di Jepang dan Korea lagi marak orang belajar Mandarin. Bukan cuma di dua negara itu aja. For your information, Americans also learn this language. They learn it because the big possibility of having Mandarin as the next lingua-franca.

I wonder when will our Bahasa Indonesia turn out to be an international language as well? Is there any hope?
so get a grip, learn mandarin! it’s for your ownsake…
huohoho…

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!